Selasa, 04 Juni 2013

Oase Jiwa Diatas Langit



Dia lelah, tentu saja lelah namun  tak mau terlihat lelah. Sosok mulia itu terus mengajak kaumnya mengesakan Allah, mengunjungi kabilah demi kabilah. Namun  terusir dengan lemparan batu, kotoran unta, cibiran bahkan diteriaki gila. Sang terpercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya, namun ia tak menyerah, walau lelah, walau lemah.  Jiwanya menjerit melihat pengikutnya disakiti. Ditengah ketidak berdayaannya melihat penganiayaan yang makin meningkat hari demi hari, kini dua pelindung utama da’wah Islam justru berpulang menghadap Rabb nya. Sang paman terkasih yang senantiasa memberikan perlindungan siang dan malam, walau hingga akhir hayat tak berkesempatan bersyahadat. Istri tercinta tempat berbagi lelah raga dan jiwa yang selalu setia kini tiada lagi mengiringi. 
Jiwanya kian lelah, raganya kian lemah. Kini hanya Allahlah tempatnya mengadu mencurahkan segala isi jiwa. Ia tentu berduka, merasa sepi berjuang sendirian. Dan saat kelelahan itu memuncak Allah mengutus jibril untuk menjemput Muhammad al Mustafa menemui-Nya. Bersama buraq datang menemui Muhammad memperjalankannya atas izin Allah. Singgah di al aqsha kemudian  naik ke Sidratul Muntaha menemui Dzat yang maha indah.  Sang Nabi berangkat mengarungi jarak yang bahkan kita tak mampu mengukurnya,  dengan kecepatan yang hingga saat ini belum mampu kita melogikanya. Kurang dari waktu datangnya fajar Rosulullah dibawa hingga Sidratul Muntaha lalu naik lagi menghadap Allah dengan jarak yang sangat dekat. 

Menghadap sang pencipta keindahan, sang pembentuk cinta, Dzat yang maha sempurna, ia syahdu raganya ringan. Kesyahduan, keterpesonaan kesejukan, kenikmatan ruhani kelegaan jiwa semua rasa tak terlukiskan memenuhi jiwanya. Dari perjalanan malam itu kini kita mengenagnya dengan shalat, lima kali dalam satu hari kita menundukkan hati pikiran dan jiwa, sujud kepada Dzat yang maha indah mengisi jiwa kita yang tersibukkan oleh dunia yang hina. Namun kenapa sebuah perintah dengan sejarah yang begitu indah luar biasa seringkali kita sebut sebagai beban, penyita waktu dan kewajiban yang menyiksa?

Dan saat Rasulullah bersiap kembali jibril menawarkan “tinggallah lebih lama lagi, bersama kami dekat dengan Ilahi” sosok mulia itu menjawab “Tidak! Di bumi masih banyak yang belum beriman, disana aku mengabdi, berkarya, berkoban hingga batas waktu yang telah ditentukan”

Tentu Allah adalah hal yang paling dicintainya, bersama-Nya sepajang waktu adalah cita dan harapannya, namun dia tetap memilih bersegera kembali ke kaumnya, membagikan kenikmatan iman dalam keseharian. Namun kini seolah kita lupa bahwa sujud sujud yang kita lakukan merupakan bentuk langsung terhubungnya mahluk yang hina dengan Allah yang maha indah, terhubungnya manusia yang fana dengan kekuatan yang abadi. Bahkan kini kita merasa terbelenggu oleh aturah keseharian agama kita yang dulu diperjuangkan bukan hanya dengan tetesan keringat namun juga dengan darah.  Kita seolah lupa bahwa mereka para asabiqul awalum tidak berkorban untuk sebuah kesia siaan. Kita terkungkung dengan penilaian sebatas mata, pikiran kita tidak mampu menggapai sesuatu yang tak kasat mata, pikiran yang menuntut “hadirkan sekarang juga, didepan mata baru percaya” kita terkungkung dengan mata, berpikir sebatas apa yang mampu dilihat, tanpa menelaah apa sebenarnya yang kita lakukan.

1 komentar: